:: Selamat membaca | Semoga bermanfaat | FOLLOW ME @Insenia-id.blogspot.com ::

Friday, May 30, 2014

110 Patung Merana: Simbol Penderitaan Korban Lumpur Lapindo

"Setidaknya bayangkan jika hal itu terjadi pada kita, karena bencana seperti ini bisa terjadi kapan saja dan dimana saja"

Danau Lumpur Sidoarjo, sebuah simbol ketidakberdayaan rakyat tertindas. Sebuah peringatan dan amarah sang alam kepada manusia yang serakah. Sudah delapan tahun lamanya tragedi ini berlangsung, lumpur terus keluar dari perut bumi, memaksa rakyat kecil untuk meninggalkan rumah mereka, meninggalkan mata pencaharian mereka, meninggalkan harapan hidup mereka, tanpa ada sepatah kata pun, tanpa ada kata maaf apalagi pertanggungjawaban dari mereka yang tak merasa bersalah.

Hai guys! Delapan tahun sudah dilewati saudara-saudara kita di Sidoarjo yang menjadi korban keganasan semburan lumpur Lapindo. Delapan tahun bukan waktu yang singkat, selama delapan tahun itu kita bisa tidur nyenyak dan makan enak sementara saudara-saudara kita disana tak pernah bisa mengalami apa yang kita rasakan. Bahkan hingga sekarang tak ada solusi apapun untuk menghentikan amukan lumpur tersebut. Saudara kita disana mungkin juga sudah lelah menanti kejelasan pemerintah, sudah begitu lelah menanti pertanggung jawaban yang tak kunjung datang.

Dadang Christanto

Di "danau lumpur" tersebut sekarang kalian akan menemukan sebuah pemandangan baru. Sebuah karya seni kemanusiaan. Ia adalah Dadang Christanto, seorang seniman kontemporer yang membuat karya berupa 110 patung manusia setinggi sekitar 2 meter. Patung-patung itu diletakkan di titik 21 tanggul lumpur. Mereka berbaris dengan tangan menengadah sambil memegang rongsokan peralatan rumah tangga yang dilumuri lumpur. Sebuah karya seni cerdas yang berusaha menyindir keadaan sekarang ini.


Saya mulai terpikirkan, kenapa pemerintah tidak membuat Museum Lumpur Lapindo? Mirip seperti Museum Tsunami di Aceh, atau Museum Vulkanologi di lereng Merapi. Bukankah ini merupakan bencana nasional? Atau jangan-jangan mereka bahkan tidak menganggap ini adalah sebuah bencana? Jika itu benar, maka ini merupakan bencana besar bagi bangsa ini, bencana besar karena ternyata kita memiliki pemimpin yang hanya bisa pura-pura tak mau tahu. Ide 110 patung memang cerdas, namun jika Museum Lumpur Lapindo benar-benar direalisasikan setidaknya ada dua poin yang bisa dirasakan. Pertama, daerah tersebut dapat menerima penghasilan dari sektor pariwisata, dan yang kedua, sebagai pembelajaran akan keserakahan dari segelintir manusia.

Delapan tahun bukan waktu yang sebentar, ada baiknya kita semua ikut mendoakan para korban agar segera mendapatkan keadilan dan kejelasan bagi kehidupan mereka. Setidaknya bayangkan jika hal itu terjadi pada kita, karena bencana seperti ini bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. insenia-id.blogspot.com

Reactions:

0 comments:

Post a Comment