"Setidaknya bayangkan jika hal itu terjadi pada kita, karena bencana seperti ini bisa terjadi kapan saja dan dimana saja"
Danau Lumpur Sidoarjo, sebuah simbol ketidakberdayaan rakyat tertindas. Sebuah peringatan dan amarah sang alam kepada manusia yang serakah. Sudah delapan tahun lamanya tragedi ini berlangsung, lumpur terus keluar dari perut bumi, memaksa rakyat kecil untuk meninggalkan rumah mereka, meninggalkan mata pencaharian mereka, meninggalkan harapan hidup mereka, tanpa ada sepatah kata pun, tanpa ada kata maaf apalagi pertanggungjawaban dari mereka yang tak merasa bersalah.
Hai guys! Delapan tahun sudah dilewati saudara-saudara kita di Sidoarjo yang menjadi korban keganasan semburan lumpur Lapindo. Delapan tahun bukan waktu yang singkat, selama delapan tahun itu kita bisa tidur nyenyak dan makan enak sementara saudara-saudara kita disana tak pernah bisa mengalami apa yang kita rasakan. Bahkan hingga sekarang tak ada solusi apapun untuk menghentikan amukan lumpur tersebut. Saudara kita disana mungkin juga sudah lelah menanti kejelasan pemerintah, sudah begitu lelah menanti pertanggung jawaban yang tak kunjung datang.
Dadang Christanto
Di "danau lumpur" tersebut sekarang kalian akan menemukan sebuah pemandangan baru. Sebuah karya seni kemanusiaan. Ia adalah Dadang Christanto, seorang seniman kontemporer yang membuat karya berupa 110 patung manusia setinggi sekitar
2 meter. Patung-patung itu diletakkan di titik 21 tanggul lumpur.
Mereka berbaris dengan tangan menengadah sambil memegang rongsokan
peralatan rumah tangga yang dilumuri lumpur. Sebuah karya seni cerdas yang berusaha menyindir keadaan sekarang ini.

Saya mulai terpikirkan, kenapa pemerintah tidak membuat Museum Lumpur Lapindo? Mirip seperti Museum Tsunami di Aceh, atau Museum Vulkanologi di lereng Merapi. Bukankah ini merupakan bencana nasional? Atau jangan-jangan mereka bahkan tidak menganggap ini adalah sebuah bencana? Jika itu benar, maka ini merupakan bencana besar bagi bangsa ini, bencana besar karena ternyata kita memiliki pemimpin yang hanya bisa pura-pura tak mau tahu. Ide 110 patung memang cerdas, namun jika Museum Lumpur Lapindo benar-benar direalisasikan setidaknya ada dua poin yang bisa dirasakan. Pertama, daerah tersebut dapat menerima penghasilan dari sektor pariwisata, dan yang kedua, sebagai pembelajaran akan keserakahan dari segelintir manusia.
Delapan tahun bukan waktu yang sebentar, ada baiknya kita semua ikut mendoakan para korban agar segera mendapatkan keadilan dan kejelasan bagi kehidupan mereka. Setidaknya bayangkan jika hal itu terjadi pada kita, karena bencana seperti ini bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.
insenia-id.blogspot.com
"Tak perlu saya jelaskan lagi, situs-situs seperti voa-islam.com,
islamedia.co, dan baru-baru ini nabawia.com sangat menyesatkan pembaca"
Hai guys! Tulisan ini merupakan bentuk kesedihan saya, miris rasanya melihat situs atau laman-laman yang membawa nama Islam namun berisi berita yang menurut saya tidak independen dan terkesan memaksakan. Apalagi kalau bukan masalah politik. Okelah, untuk situs-situs berita yang mempunyai nama besar, meskipun kita tahu pemilik situs-situs tersebut adalah pemain politik di negara kita, namun informasi yang mereka berikan masih terbilang wajar. Mengunggulkan salah satu pasangan capres cawapres misalnya, menurut saya hal itu lumrah karena yang mereka beritakan memang benar adanya.
Namun, yang membuat saya jengkel adalah ada beberapa situs atau laman yang jelas sekali mereka membawa nama Islam namun berisi fitnah dan kebencian terhadap salah satu tokoh politik yang belum tentu pendapat mereka itu benar. Tak perlu saya jelaskan lagi, situs-situs seperti voa-islam.com, islamedia.co, dan baru-baru ini nabawia.com sangat menyesatkan pembaca. Ini pendapat pribadi saya. Mengapa saya menyebut situs-situs diatas secara gamblang? Agar kalian bisa menilai sendiri, agar kalian bisa mengerti bahwa tulisan saya ini bukan sekedar omong kosong setelah kalian membaca berita-berita yang kurang baik disampaikan oleh media-media online tersebut.

Saya senang membaca tausiah, sejarah Islam, dan cerita-cerita yang dapat mendamaikan jiwa. Tapi dimana lagi saya bisa mendapatkan hal tersebut di dunia maya jika situs-situs yang mengatasnamakan agama telah dinodai oleh tulisan-tulisan yang berisi fitnah dan kebencian? Harusnya media bisa menempatkan diri mereka secara independen dan tidak menyesatkan pembaca. Jangan karena di dalam dunia maya mereka bisa berkata apa saja lalu menebar fitnah dan propaganda. Apa mereka tidak takut dosa? Apa mereka sudah merasa bahwa mereka adalah orang yang paling sempurna di dunia ini? Semoga Tuhan senantiasa mengampuni mereka-mereka ini.
Terlepas dari itu semua, ini hanya sebuah tulisan tentang apa yang saya lihat dan rasakan. Saya hanya bisa menilai secara pribadi, apa yang baik dan apa yang buruk. Kebenaran bukan milik kita, kebenaran hanya milik Tuhan. Manusia sewajarnya harus saling mengasihi, berdiri bersama membangun negeri yang lebih baik, bukan memberi contoh yang buruk bagi generasi penerus bangsa ini. Sekali lagi, ini hanya tulisan pribadi saya, saya tidak memaksa kalian untuk sepemikiran dengan saya, namun saya hanya sekedar mengajak kita semua untuk berpikiran terbuka, jangan pura-pura buta, apa yang salah tak harus dibenarkan, dan apa yang mereka bilang benar belum tentu merupakan sebuah kebenaran. insenia-id.blogspot.com